Minoritas di tengah mayoritas
Keharmonisan Minoritas Umat Islam Di Bali
Oleh : Dicky Noras Habibi
Ketika mendengar kata Pulau Bali yang terlintas dalam setiap pikiran orang pasti terkenal akan segala keindahan alam yang terdapat di sana. Memang tidak salah anggapan tersebut, pasalnya Bali memang di juluki sebagai surga yang tersembunyi yang di miliki oleh Indonesia. Keindahan panorama alam serta ramah perangai warganya membuat Bali mudah di kenali banyak orang di seluruh nusantara atau bahkan dunia, bahkan sebagian masyarakat di dunia banyak yang lebih mengetahui Bali dari pada Indonesia. Namun penulis disini tidak akan membahas mengenai keindahan fenomena alam yang terdapat di Bali, penulis akan membahas keberagamaan yang terdapat di Bali.
Penulis tertarik mengenai fenomena masyarakat Islam yang terdapat di Bali, bagaimana korelasi hubungan mereka dengan masyarakat setempat, karena sudah kita ketahui semua, meskipun Indonesia terkenal dengan jumlah masyarakat Islam terbesar di dunia, namun di beberapa daerah khsusnya di Bali Islam menjadi minoritas, karena disana Agama yang mayoritas adalah Agama Hindu, meskipun demikian, masyarakat Islam disana bisa hidup berdampingan dengan warga selama kurang lebih 800 tahun. Tentu terdapat faktor penyebab yang menarik yang perlu di telusuri lebih mendalam. Sebenarnya apa yang melatar belakangi kerukunan antar umat beragama tersebut, sehingga kehidupan mereka berjalan secara harmonis hampir 1 Abad lamanya.
Pada realitanya Agama minoritas yang terdapat dalam suatu daerah ataupun negara, lebih banyak mengalami konflik yang bersifat destruktif dengan Agama mayoritas, entah itu konflik sosial, ekonomi, ataupun konflik ideologi. Agama minoritas tidak memiliki legitimasi kekuatan serta kekuasaan karena jumlah mereka yang sedikit, sehingga mereka rawan sekali di tindas ataupun di intimidasi oleh Agama mayoritas. Sebagai contoh, kita dapat melihat konflik keagamaan etnis muslim rohingnya yang terdapat di myanmar, mereka di usir atau bahkan di bunuh oleh aparat serta masyarakat myanmar yang beragama Budha. Budha sendiri merupakan Agama mayoritas yang terdapat di myanmar, anehnya Bhiksu mereka yang notabenya pemangku Agama dalam Budha juga memperbolehkanya, tentu situasi demikian sangatlah perlu di pertanyakan, karena pada dasarnya semua Agama di dunia tidak menghendaki adanya kekerasan. Muslim di rohingnya di usir dan bahkan di bunuh dari daerah mereka sendiri karena mereka di anggap illegal oleh masyarakat setempat, tentu banyak terjadi pelanggaran HAM dalam peristiwa yang terjadi dalam etnis muslim rohingnya. Fenomena demikian merupakan salah satu contoh konflik keagamaan dimana minoritas di tindas oleh kelompok mayoritas.
Jika ingin berkaca terhadap kerukunan antar umat beragama tentu Bali dapat di jadikan rujukanya, karena disana masyarakatnya hidup berdampingan, serta minim sekali terjadi konflik antar agama satu dengan agama lainya. penulis sendiri pernah merasakan hidup, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat Bali kurang lebih selama 2 tahun. Penulis merasakan indahnya menghargai perbedaan, saling mengayomi antar sesama manusia serta menjunjung tinggi prinsip Bhineka Tunggal Ika, semuanya di terapkan dengan baik di Bali. Perbedaan Etnis, Suku, Ras, Maupun Agama tak menjadikan Bali menjadi lebih buruk, justru semua itu di terima dengan baik disana, oleh karena itu tidak heran jika Pulau Bali merupakan Pulau dengan jumlah wisatawan terbanyak di Indonesia.
Toleransi merupakan salah satu kunci utama dalam menjaga kerukukunan antar umat beragama, toleransi di jaga serta di pelihara dengan baik disana, cerminan toleransi yang dapat di tiru dari Bali salah satunya adalah ketika Hari Raya Nyepi, Nyepi merupakan hari raya terbesar bagi umat hindu, dimana pada hari tersebut tidak ada aktifitas sama sekali di luar rumah, pada hari tersebut masyarakat hindu di Bali melakukan ritual keagamaan seperti puasa dan ritual lainya di dalam rumah selama satu hari penuh, tidak boleh untuk bermain handphone ataupun melihat televisi. Jadi bisa di simpulkan pada hari raya Nyepi, Bali terlihat seperti kota mati, ramai pengunjung di tempat wisata tidak ada, padatnya kendaraan yang biasanya memenuhi jalan juga terlihat tidak ada, Pelabuhan, Bandara, maupun Terminal tidak beroperasi pada hari tersebut. Yang ada hanyalah Pecalang atau petugas keamanan adat desa yang jaga-jaga disana. Biasanya pecalang yang terdapat di Bali beragama hindu, namun penulis menemukan fenomena lain yaitu terdapat satu diantara ratusan pecalang yang beragama Islam. Setelah penulis bertanya banyak terhadap pecalang tersebut, ternyata beliau sudah menjadi pecalang kurang lebih hampir dua puluh tahun, tentu bukanlah waktu yang sedikit, bagi mereka hal tersebut merupakan hal biasa karena meskipun beliau beragama Islam, namun beliau menganggap pecalang sebagai pengabdianya terhadap Pulau Bali sebagai tanah kelahiranya.
Segala macam perbedaan yang ada di Bali, entah itu dari segi budaya, sosial, maupun keberagamaan, justru membuat daya tarik bali semakin meningkat, hal ini terbukti dari indeks pengunjung disana meningkat setiap tahun. Ramah perangai warganya, serta tingginya tingkat toleransi disana membuat orang yang berkunjung ke Bali menjadi betah serta ingin kembali berkunjung kesana, banyak pelajaran yang dapat di ambil dari pulau dewata khususnya dalam hal bertoleransi. Seharusnya fenomena keberagamaan yang demikian dapat di terapkan di seluruh penjuru Indonesia supaya tercipta Indonesia yang harmoni serta memiliki integritas yang tinggi.

Komentar
Posting Komentar