Aku Dan Al-Qur'an Dalam Memaknai Kehidupan



Aku dan Al-Qur’an Dalam Memaknai Kehidupan
Oleh : Diki Noras Habibi 16540033

Al-Qur’an tentunya bukanlah sesuatu yang asing bagi penulis, sejak kecil lantunan indah ayat suci Al-Qur’an senantiasa di ucapkan oleh kedua orang tua penulis dalam segala hal, kebiasaan baik ini secara tidak langsung melekat dalam diri penulis untuk selalu mengingat serta memahami ayat suci Al-Qur’an. Ketika memasuki bangku sekolah dasar setiap harinya penulis selalu di perdengarkan penggalan ayat suci Al-Qur’an ketika sebelum memulai pelajaran, tujuanya supaya ketika menuntut ilmu, kita dapat dengan mudah memahaminya  seperti apa yang dikataan oleh guru pengajar, di akhir pelajaran pun ayat suci Al-Qur’an juga di ucapkan tujuanya supaya kita semua selamat sampai di rumah.
Ketika anak-anak di lingkungan penulis asyik menikmati masa kecilnya di sore hari, seperti mengisinya dengan bermain sepak bola, bermain layang-layang sampai memancing, Namun beda halnya dengan penulis yang sudah di sekolahkan ke Taman Pendidikan Al-Qur’an atau terkenal dengan sebutan (TPQ), TPQ di mulai jam 14.30 sampai dengan 17.00. Tentu terdapat beberapa tahapan dalam belajar mengaji dalam TPQ sebelum menuju ke tahap membaca Al-Qur’an, diantaranya Qiraati jilid 1 sampai dengan jilid 6, ketika itu semua sudah tercapai dengan baik, kita dapat membaca Al-Qur’an dengan lebih memahami panjang dan pendeknya suatu ayat, serta bacaan tajwid yang ada di dalamnya, jadi bukan hanya sekedar membaca saja. 
Awalnya ketika pertama kali belajar mengaji di TPQ semuanya terasa berat dilakukan, karena mungkin karena belum terbiasa melakukan rutinitas seperti itu, serta masih terdapat rasa iri terhadap teman-teman di lingkungan penulis yang asyik bermain dengan kawan sebayanya. Namun penulis sadar pentingnya untuk memahami kitab suci umat Islam yaitu Al-Qur’an. Penulis teringat nasihat yang diberikan oleh orang tua, yang mengatakan ”Jika kamu menguasai ilmu Agama, maka otomatis dunia akan mengikutimu” seuntai kata yang sangat bermakna yang penulis ingat sampai sekarang ini. Tujuan yang di inginkan oleh orang tua sangatlah mulia, mereka hanya berkeinginan supaya anaknya bahagia di dunia dan di akhirat, salah satunya melalui perantara Al-Qur’an, jika seseorang memuliakan Al-Qur’an maka mulialah hidupnya.
Semenjak menginjak bangku SMP interaksi penulis dengan Al-Qur’an bukan malah semakin meningkat justru malah semakin menurun, penyebabnya tidak lain adalah karena efek lingkungan beserta pergaulan yang kurang mendukung dalam memahami ayat suci Al-Qur;an. meskipun hidup di daerah pedesaan, namun tidak menjamin seseorang berakhlak baik, memang tidak dapat di pungkiri solidaritas yang terjalin antar masyarakat pedesaaan berjalan dengan baik, gotong royong masih menjadi ciri khas dari masyarakat pedesaan, namun yang patut di sayangkan adalah semangat keilmuan yang di bangun oleh generasi muda di desa penulis sangatlah lemah dan tidak bergairah, padahal kita tahu sendiri generasi muda merupakan generasi penerus bangsa, jika generasi muda sudah rusak maka dapat dipastikan negara tersebut akan rusak juga.
Mereka lebih suka terhadap minum-minuman keras dari pada menghabiskan waktu untuk diskusi mengenai masalah sekitar yang sangat banyak, minat baca buku sangat rendah sekali, bahkan yang lebih miris lagi yaitu gengsi antar anggota teman sangatlah tinggi, mereka tidak mau sekolah jika orang tuanya tidak mau membelikan mereka sepeda motor yang sangat bagus. Namun anehnya orang tuanya juga menuruti kemauan sang anak tersebut, alasan yang di bangun orang tua untuk menuruti kemauan anaknya supaya mereka tetap dapat melanjutkan sekolah sampai tinggi, tentu sangat miris sekali melihatnya. Penulis hampir terjebak dalam situasi yang demikian, Jauh dari kitab suci Al-Qur’an dan jarang membacanya serta memahami makna yang terkandung di dalamnya, setiap hari pekerjaanya hanya bermain saja, tanpa memikirkan hal yang berarti untuk masa depan, hanya kesenangan yang terlintas dalam benak penulis.
  Lambat laun penulis mulai sadar akan hal yang di lakukan selama ini sangatlah jauh dari kebermanfaataan, segala perbuatan yang dilakukan selama ini hanyalah dinamika kehidupan yang dilakukan oleh seorang remaja yang dapat memberinya pelajaran yang amat berharga. Namun tidak banyak juga teman-teman sepermainan dari penulis yang tetap asyik berada dalam zona nyamanya, banyak dari teman penulis yang bekerja mencari uang, namun ketika mendapatkan uang yang banyak, uang tersebut tidak digunakan untuk membahagiakan keluarga atau orang terdekatnya, namun malah untuk mentraktir temanya dengan minum-minuman keras, kenakalan yang dilakukan penulis tidak sampai pada tahap yang parah seperti minum-minuman keras, ataupun mencuri, mungkin hanya sekedar merokok di tempat nongkrong dan bermain keluar rumah setiap hari sampai malam.
  Akhirnya penulis benar-benar meninggalkan segala aktifitas yang terbilang kurang bermanfaat tersebut ketika menginjak bangku SMA, dimana pada saat itu penulis memilih hijrah ke kabupaten sebelah untuk menuntut ilmu, penulis di tempatkan di sebuah pondok pesantren modern oleh kedua orang tua penulis, tujuanya untuk memperbaiki semua perilaku penulis serta dapat lebih mendalami ajaran agama Islam. Awalnya memang berat ketika pertama kali hidup di perantauan dan jauh dari orang tua, namun penulis mencoba beradaptasi dengan tempat dan lingkungan yang baru. Kebetulan juga penulis di tempatkan oleh kedua orang tua di sebuah pondok pesantren yang salah satu peraturanya mewajibkan santrinya untuk menghafalkan Juz 30, Yasin, Surah Al-Mulk, Surah Al-Waqiah beserta Wirid dan Do’a yang dilantunkan sehari-hari seperti Do’a Yasin,  Do’a sesudah sholat wajib, Do’a Tahlil dan masih banyak lagi. Sebelum liburan semester terdapat aturan yang tegas dari pengasuh pondok pesantren bahwa semua santri harus menghafalkan semua tanggungan yang ada secara bertahap, seperti pada kelas SMA semester 1 harus menghafal setengah juz 30 beserta wirid dan doa sholat, semester 2 harus menghafal juz 30 beserta wirid dan doa, sampai seterusnya, apabila semua tanggungan itu tidak dapat di penuhi maka hukumanya santri tidak di perbolehkan pulang sebelum melunasi tanggunganya.
  Situasi ini tentu menjadi penyemangat tersendiri bagi semua santri untuk menghafalkan serta memahami ayat suci Al-Qur’an, motivasinya supaya mereka dapat pulang ke rumah dengan tepat waktu, serta dapat mengamalkan apa yang mereka hafalkan. Awalnya memang berat menghafalkan semua tuntutan yang di berikan oleh pondok, namun secara tidak langsung penulis dapat lebih mesra bercumbu dengan kitab suci Al-Qur’ann. Setiap pagi sehabis sholat shubuh penulis selalu menyetor hafalan kepada pengasuh untuk mengecek seberapa jauh hafalanya serta seberapa benar bacaanya, di lanjutkan setelah sholat magrib untuk mengulang-ulang serta menambah hafalan Al-Qur’anya. semua kegiatan tersebut dilakukan secara berkelanjutan,.
    Awalnya penulis tidak menyadari seberapa besar manfaat yang akan penulis dapat ketika menghafalkan semua itu, namun manfaat itu semua benar-benar penulis rasakan setelah lulus dari bangku SMA dan ketika pulang serta terjun langsung di dalam masyarakat, semua yang di ajarkan di pondok ternyata memiliki manfaat yang besar, seperti dapat memimpin acara Tahlil dalam masyarakat, serta dapat menjadi Imam dalam Masjid serta manfaat lainya. Demikianlah bagaimana penulis hidup dengan Al-Qur’an serta bagaimana interaksinya sehari-hari dengan kitab suci yang sangat mulia tersebut, penulis mengalami dinamika pasang-surut dalam memahami serta mengamalkan ajaran Al-Qur’an, namun dari perjalanan tersebut penulis yakin segala kejadian yang di alami dalam diri penulis merupakan sebuah pelajaran yang dapat berguna di masa mendatang kelak. Besar harapan penulis untuk mengahafalkan serta memahami Al-Qur,an bukan hanya sebatas Juz 30 saja, namun 30 Juz, karena orang yang hafal Al-Qur’an 30 Juz kehidupanya di dunia dan akhirat akan di jamin oleh Allah SWT. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konflik Mahasiswa Papua Di Yogyakarta Terhadap Lemahnya Integritas Bangsa Dalam Mewujudkan Persatuan Indonesia

Pejabat elite negeri dalam lingkaran korupsi